Connect with us

Hukum dan Ham

Probolinggo – Rumah Anak Hasan Aminuddin Turut Digeledah KPK dalam Kasus Jual Beli Jabatan Pemkab Probolinggo

Diterbitkan

pada

Probolinggo – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di rumah dua anak Hasan Aminuddin. Kedatangan tim KPK terduga mencari bukti tambahan terkait dugaan kasus jual beli jabatan PJ kepala desa. Kasus ini menyeret bupati Probolinggo dan suaminya yang menjadi tersangka.

Dua rumah anak Hasan Aminuddin, yakni, Zulmi Noor Hasani dan  Dini, yang tinggal di  Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, pada Sabtu (4/9) didatangi KPK.

Penggeledahan di rumah Dini maupun Zulmi terlaksana pada hari yang sama. Pertama di rumah Dini dan berlanjut ke rumah Zulmi. Para jurnalis dan media belum mendapatkan keterangan dari KPK terkait barang yang tertemukan di rumah tersebut.

Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakulan penggeledahan hingga 4 jam lamanya. Setelah keluar dari rumah Zulmi, KPK terlihat membawa keluar satu koper yang belum dapat KPK sebutkan isinya. Tak satupun petugas KPK memberikan komentar pada awak media.

Koper yang KPK  bawa langsung tim naikkan ke.bagasi salah satu mobil warna hitam. Ada dua mobil yang membawa petugas KPK saat melakukan penggeledahan.

Sementara itu, penjagaan ketat  terlaksana oleh polisi yang membantu. Siapapun tidak boleh masuk ke dalam area rumah itu. Para awak media pun hanya bisa mengambil gambar dari luar pintu gerbang saja.

Sebelumnya ada informasi tentang Bupati Probolinggo, Puput Tantriana Sari dan suaminya Hasan aminuddin, anggota DPR RI partai Nasdem tertangkap KPK. Selain itu, ad 18 orang ASN yang menjadi tersangka atas dugaan kasus jual beli jabatan PJ kepala desa di Kabupaten peobolinggo. (as)

Continue Reading
Advertisement

Hukum dan Ham

Polres Kota Batu Jatim Mengungkap Motif Penganiayaan Balita

“Korban dianggap sebagai beban, karena bukan anak biologis pelaku.”

Diterbitkan

pada

Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan (tengah) pada saat melakukan jumpa pers terkait kasus penganiayaan balita, di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu (27/10/2021). ANTARA/Vicki Febrianto

Kota Batu – Kepolisian Resor (Polres) Kota Batu berhasil mengungkap motif dibalik kasus penganiayaan seorang balita di wilayah Kota Batu, Jawa Timur (jatim) dengan seorang tersangka berinisial WK (26) .

Kapolres Batu AKBP I Nyoman Yogi Hermawan, di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu, mengatakan bahwa motif di balik penganiayaan balita berusia 2,5 tahun tersebut adalah terkait dengan faktor ekonomi, karena sang balita dianggap sebagai beban.

“Motif tersangka, karena ekonomi. Korban dianggap sebagai beban, karena bukan anak biologis pelaku,” kata Yogi.

Yogi menjelaskan, selain motif masalah perekonomian tersebut, pelaku juga selalu merasa kesal dengan sang balita, karena korban sering rewel. Kemudian, latar belakang lain adalah pelaku juga memiliki permasalahan dengan ibu balita yang berusia 19 tahun tersebut.

Pelaku, katanya pula, merupakan kekasih atau calon suami dari ibu korban. Keduanya telah tinggal bersama mulai Agustus 2021. Penganiayaan kepada sang bayi tersebut, ditengarai telah dilakukan tersangka WK sejak mereka tinggal bersama.

“Rencananya, tersangka akan menikahi ibu korban dalam waktu dekat. Sehingga mereka sudah tinggal satu rumah sejak Agustus 2021. Penganiayaan itu juga dilakukan mulai Agustus,” katanya lagi.

Tersangka dengan ibu korban dalam waktu dekat akan menikah, sehingga mereka tinggal satu rumah. Mulai Agustus melakukan kekerasan. Tersangka beberapa kali melakukan penganiayaan, dan kali ini yang paling parah, kata dia pula.

Berdasarkan hasil visum yang diterima Polres Kota Batu, korban mengalami luka di sekujur tubuhnya. Korban mengalami luka bakar akibat disiram air panas, luka bekas sundutan rokok, dan bekas gigitan pada jari-jari korban.

“Saat ini korban masih dirawat di rumah sakit, dan didampingi oleh petugas medis, termasuk pemulihan untuk trauma healing,” ujarnya.

Petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa bak plastik yang digunakan untuk memandikan korban, gayung yang dipergunakan untuk menyiram air panas, dan panci kecil yang dipergunakan untuk merebus air.

Kejadian yang dilakukan tersangka sejak Agustus 2021 tersebut, tidak dilaporkan kepada pihak berwajib oleh sang ibu. Sang ibu tertekan akibat kejadian penganiayaan yang menimpa anaknya tersebut, dan merasa takut tidak dinikahi oleh tersangka.

“Ibu tidak melapor karena merasa tertekan, dan takut tidak dinikahi oleh tersangka,” katanya pula.

Polisi berhasil menangkap tersangka usai mendapatkan laporan dari paman korban. Paman korban melaporkan kasus penganiayaan balita tersebut pada Sabtu (23/10), dan kemudian pelaku ditangkap pada Minggu (25/10).

“Dalam waktu 1×24 jam, pelaku berhasil kami tangkap,” katanya lagi.

Pelaku dijerat dengan Pasal 80 ayat 2 juncto 76c UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23 Tahun 2002, yang telah diubah UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana penjara maksimal lima tahun.(antara/*)

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: