Beranda Berita Politik yang mempan mengaet pemilih rasional

Politik yang mempan mengaet pemilih rasional

159
0

Pengamat Politik Arif Susanto mengajak seluruh elemen bangsa untuk berhenti berperan dalam politik olok-olok. Politik yang berpikir reaksioner dan kurang antisipatif dalam menawarkan program solusi. Padahal banyak hal substansial lain yang mampu mendongkrak geliat politik rasional kepada pemilih.
Sekitar 5 bulan lagi, kandidat Capres dan Cawapres di Pemilu 2019 akan dipilih oleh masyarakat tanah air. Tawaran program yang jelas, penyampaian visi dan misi secara kreatif, dan aturan main kampanye berkualitas dari para otoritas pemilu, menjadi kesempatan bagi para elit untuk meningkatkan kecerdasan politik masyarakat sebagai pemilih rasional, serta menjadi kandidat pemimpin yang visioner.
Apalagi lebih dari 40 persen pemilih bukan lagi Generasi X, melainkan kaum milenial yang dididik secara demokratis sehingga percaya bahwa pluralisme menjadi bagian dari eksistensi kemanusiaan. Sehingga permainan sensasi untuk keuntungan politik saja tidak akan efektif untuk mengubah pilihan mereka sebagai pemilih loyal.
Lalu faktor buruk apa, yang sulit mendongkrak geliat politik rasional pada masyarakat ?, berikut pengamat politik dari eksposit strategic Arif Susanto dapat membeberkannya. Arif menambahkan, pasangan calon yang berpikir reaksioner atau kurang antisipatif dalam menawarkan program solusi, tim kampanye yang gagap dalam menerjemahkan visi dan misi, serta minimnya terobosan kampanye cerdas dan kreatif, menjadi tribalisme politik yang berpolar hingga ke masyarakat, sehingga konflik semakin tajam dan memperkeruh baku hantam elit dan massa.
Ditambah lagi penyelenggara pemilu yang kerap terjebak hal teknis seperti tahapan kampanye, bukan lagi fokus pada hal substansial seperti pengaturan dan pelaporan dana kampanye secara transparan. Hal itu berimplikasi terhadap sikap para kandidat yang hanya berburu kehebohan dalam kampanye.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 70 = 80