spot_img
Jumat, Maret 6, 2026
Beranda DKI Jakarta Penyebab Malam Terasa Lebih Dingin di Pulau Jawa

Penyebab Malam Terasa Lebih Dingin di Pulau Jawa

293

Jakarta – Rabu (7/7/2021), beberapa daerah di Jawa Timur banyak memperbincangkan udara dingin saat malam tiba. Masyarakat menghubungkan kondisi ini dengan fenomena Aphelion. Tapi benarkah demikian?

Fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli-September). Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau. Periode ini ditandai dengan pergerakan angin dari arah timur berasal dari Benua Australia.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal, mengatakan pada bulan Juli wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Herizal mengatakan adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia. Fenomena ini terkenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

“Angin Monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia memiliki suhu permukaan laut relatif lebih dingin. Dengan demikian, mengakibatkan suhu di beberapa wilayah Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa lebih dingin,” kata Herizal.

Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari. Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang bumi lepaskan pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.

Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik. Gelombang panjang ini langsung lepas ke atmosfer luar.

Mengenai Aphelion yang berdampak pada suhu udara saat malam, Herizal mengatakan bahwa posisi matahari memang berada pada titik jarak terjauh dari bumi (Aphelion). Tapi, kondisi tersebut tidak berpengaruh banyak pada fenomena atmosfer permukaan.  Aphelion merupakan fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli.

“Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau. Hal ini menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia,” kata dia. Fenomena ini merupakan hal yang biasa terjadi tiap tahun. Bahkan hal ini pula yang nanti dapat menyebabkan beberapa tempat, seperti di Dieng dan dataran tinggi atau pegunungan, berpotensi terjadi embun es (embun upas). Biasanya sebagian orang mengira itu adalah salju.

Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, mengatakan berdasarkan pengamatan BMKG di seluruh wilayah Indonesia, saat ini memang rata-rata suhu minimum dan maksimum di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya lebih rendah. “Suhu udara minimum berkisar antara 14-21 derajat Celsius. Suhu terendah tercatat di Maumere dan Tretes (Pasuruan)” ujar Guswanto. (Pers BMKG/red)