Beranda Berita Pemkab Blitar menggelar ritual jamasan Gong Kyai Pradah

Pemkab Blitar menggelar ritual jamasan Gong Kyai Pradah

432
0

Blitar. Dalam Rangka Memperingati Bulan Maulud, Pemkab Blitar Kamis Siang Menggelar Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah Di Kecamatan Sutojayan Kab Blitar. Kegiatan memandikan benda pusaka berupa sebuah gong dengan menggunakan air kembang setaman ini digelar setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad Saw.
Tradisi ini selalu menjadi daya tarik utama masyarakat. Acara ini pun menjadi salah satu tujuan wisata di Kabupaten Blitar. Kegiatan adat istiadat ini disebut sebagai bentuk ‘nguri-nguri budaya’, yakni untuk mengenalkan tradisi kepada generasi muda sekaligus melestarikannya dan menyejahterakan masyarakat.
Jamasan Kiai Pradah berkaitan erat dengan cerita sejarah Kiai Pradah yang sebelumnya mendapat gelar Kiai Bicak. Kisah ini konon terjadi pada sekitar abad ke-17. Tradisi Siraman Gong Kiai Pradah ini ditetapkan menjadi satu di antara Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tahun 2016 dan 2017.
Gong Kyai Pradah

Kyai Pradah atau yang juga disebut Kyai Bicak merupakan sebuah pusaka peninggalan Sunan Amangkurat Mas (Pangeran Prabu) dari Kartasura. Kedatangan Pangeran Prabu ke wilayah Lodoyo, Blitar karena menjalani hukuman pengasingan dari ayahandanya, Pakubuwana I. Pada saat itu wilayah Lodoyo masih merupakan hutan lebat yang angker. Ia membawa serta pusaka berupa Gong (Kempul Limo) tersebut, sebagai alat penawar keadaan daerah yang angker ini.
Pangeran Prabu mulai membangun peradaban disana, sehingga berangsur-angsur tempat itu mulai dipadati penduduk. Namun Pangeran Prabu tidak lama menetap disitu, karena kesedihan hatinya belum dapat disembuhkan akibat pengasingan. Untuk menghilangkan kesedihannya itu ia berpendapat bahwa hanya Tuhan-lah kiranya yang bisa menyembuhkannya.
Dalam rangka mencari petunjuk Tuhan, Pangeran Prabu meninggalkan Pusaka Kyai Bicak di Desa Kebonsari dan berpesan kepada masyarakat agar selalu memandikan pusaka peninggalannya tersebut setiap 12 Rabiul Awal yang juga bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Penamaan “Kyai Pradah” didapat dari cerita tentang kedatangan segerombolan harimau saat gong pusaka itu ditabuh tujuh kali oleh abdi kinasih Pangeran Prabu yaitu Ki Amat Tariman. Konon Ki Amat Tariman sempat terpisah dari Pangeran Prabu di belantara, kemudian ia menabuh gong sebanyak tujuh kali supaya Sang Prabu dapat mendengar dan menemukannya.
Alih-alih datangnya Sang Prabu, justru segerombolan harimau yang datang. Namun harimau-harimau justru menjaga Ki Amat Tariman. Oleh karena itu pusaka yang awalnya bernama Kyai Bicak ini disebut sebagai “Kyai Macan” atau “Mbah Pradhah”. Hingga kini pesan Pangeran Prabu agar memandikan pusaka tersebut tepat pada Muludan tetap dilaksaanakan.
Menurut Juru Kunci Gong Kyai Pradah, menyatakan acara ini harus rutin dijalankan supaya semua warga selamat dan sejahtera. “Pernah sekitar tahun 1992, waktu itu wedono (pembantu pimpinan wilayah tingkat II Kabupaten, Red) yang menjabat tidak begitu peduli dengan tradisi masyarakat disini. Kyai Pradah tidak dijamasi. Malamnya saya melihat ada bayangan putih menyerupai macan (harimau) keluar dari gedung pakuncen (tempat menyimpan gong). Macan itu meloncat keluar lalu lari ke arah Timur,”
“Entah kebetulan atau tidak, esok pagi, warga Desa Gondanglegi yang letaknya di timur Alun-Alun Lodoyo melaporkan, kambing ternak mereka banyak yang mati secara bersamaan,” imbuh sang juru kunci.
Jamasan Kyai Pradah

Dalam proses ritual, Gong Kyai Pradah dikeluarkan dari tempatnya. Yakni, sebuah pesangrahan yang ada di samping kanan lapangan.
Tak sembarangan orang boleh mengeluarkan Gong itu, kecuali juru kuncinya. Saat mengeluarkannya, sang juru kunci dikawal puluhan orang baik laki-laki atau perempuan yang berpakaian serba hitam, dengan membawa bunga setaman. Termasuk juga diiringi musik gamelan, sehingga menambah suasana jadi kian sakral. Selanjutnya, Gong itu gendong oleh juru kunci, dan diarak mengelilingi lapangan.
Untuk membawa Gong itu, tak mudah karena harus melewati kerumunan warga. Apalagi, warga berebut ingin menyentuhnya karena diyakini bisa membawa berkah atau keselamatan apabila bisa menyentuh Gong tersebut. Selanjutnya, Gong itu dimandikan dengan disiram air bunga tujuh setaman.
Menariknya, saat berlangsung proses memandikan Gong itu, warga berebut ke depan panggung, untuk mendapatkan air bekas dipakai memandikan Gong tersebut. Tak pelak, air yang jatuh dari atas panggung itu diperebutkan untuk membasuh muka atau membersihkan tubuhnya, sampai ada yang meminumnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here