Pabrik Rokok Hanya Mampu Berproduksi 30 Persen Rokok Lintingan

Pabrik Rokok Hanya Mampu Berproduksi 30 Persen Rokok Lintingan

Di tengah bayang-bayang, salah seorang karyawannya terkonfirmasi Covid-19, sebuah pabrik rokok di Tulungagung, Jawa Timur, tetap beroperasi, namun sigaret tangan yang di produksi, turun hingga 70 persen. Para buruh linting ini, bekerja hanya untuk menjaga eksistensi pasar, agar keberadaan produk rokok di toko maupun warung langganannya, tidak diserobot pesaingnya.

Mati segan hidup tak mau, itulah  kondisi yang tengah dialami pabrik rokok Trubus Alami di Desa Gesikan, Kecamatan Pakel, Tulungagung, Jawa Timur, setelah di terpa badai wabah virus corona. Apalagi, salah seorang karyawannya dinyatakan terkonfirmasi positif covid-19, membuat pabrik rokok yang mempekerjakan 127 orang, kini hanya tinggal separonya yang bekerja, dan sigaret  tangan yang dihasilkan juga turun drastis.

Produk rokok dengan pangsa pasar terbesar di wilayah di Jawa Timur ini, turun sebesar 70 persen , di banding saat dalam kondisi normal, mampu berproduksi 100 bal atau 240 ribu batang rokok kretek tangan per hari . Kini dengan karyawan yang tersisa, hanya mampu melinting rokok sebanyak 60 bal atau 144 ribu batang per hari .

Besaran produk tersebut , hanya diperuntukkan menjaga eksistensi pasar yang telah ada, karena jika toko atau warung langganannya , tidak di suplay, maka pasar akan di rebut pabrik rokok lainnya , sebagai pesaingnya . Meski tetap mampu menjaga pasar, namun kini para pelanggannya enggan membayar secara tunai, dengan alasan, sepinya pembeli .

Meski dipusingkan dengan pasaran rokok lesu, namun pemilik pabrik rokok, tetap berkomitmen membayar gaji para karyawannya, karen hal ini sudah menjadi bagian perencanaan perusahaan yang harus tersedia, dan dibayarkan setiap bulanan.