Connect with us
berkat ramadhan luv

Berita

Nganjuk – Menilik Pondok Pesantren Gado-Gado Peninggalan Almarhum KH Sumanan Hidayat

Diterbitkan

pada

Nganjuk – Menilik Pondok Pesantren Gado-Gado Peninggalan Almarhum KH Sumanan Hidayat

Sebuah pondok pesantren di Kabupaten Nganjuk, memiliki julukan nama yang unik. Namanya seperti makanan khas dari Betawi. Tempat tersebut, masyarakat sekitar mengenalnya sebagai Pondok Pesantren Gado-Gado. Sebab, selain memiliki santri sama seperti pada umumnya, di pondok pesantren ini, juga menerima santri. Bahkan pondok ini juga menerima santri dengan berbagai macam latar belakang. Seperti santri dengan gangguan jiwa, mantan pemabuk minuman keras, hingga tunanetra penghafal Al-Qur’an.

Pondok Pesantren Nurul Ishlah, sebuah pondok pesantren yang berada di Kecamatan Ngronggot Nganjuk.Warga masyarakat setempat mengenal pondok pesantren tersebut dengan julukan Pondok Pesantren Gado-Gado. Julukan nama Pondok Pesantren Gado-Gado ini bukan tanpa alasan. Sebab, selain menerima santri biasa seperti pada umumnya pondok pesantren ini juga menerima santri dengan berbagai macam latar belakang. Mulai dari santri dengan gangguan jiwa, mantan pemabuk minuman keras, tunawisma dan tunadaksa. Selain itu juga autis, lansia, mantan pecandu narkoba, hingga tunanetra penghafal Al-Qur’an. Belajar di pondok ini tidak ada pungutan biaya alias gratis.

Para santri yang berada di Pondok Pesantren Nurul Ishlah ini tidak hanya berasal dari Kabupaten Nganjuk saja. Namun juga dari luar daerah seperti dari Kediri, Sidoarjo, Cilacap, Brebes, Lampung, Bali, dan Kota lainnya. Hingga saat ini total jumlah santri tercatat sebanyak 47 orang.

Menurut perjalanan sejarahnya, pendiri pondok ini ialah Almarhum Kyai Haji Sumanan Hidayat. Masyarakat mengenal KH Sumanan Hidayat sebagai Kyai Manan. Beliau mendirikan pondok pesantren tersebut setelah mendapat nasehat dari gurunya. Gurunya yakni Almarhum Kyai Haji Thoha Mu’id pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Bandar Kidul Kediri.

Dalam pesantren ini, juga terdapat salah satu santri penyandang tunanetra hafal Al’Quran. Tunanetra itu hafal Qur’an hingga 15 juz. Santri tersebut bernama Misiran. Selama 15 tahun ia belajar menghafal Al Qur’an dan langsung mendapat bimbingan almarhum Kyai Manan. Namun setelah sang kyai berpulang, semangat Misiran tak pernah padam untuk menghafalkan seluruh ayat suci Al-Qur’an hingga sekarang.

Muhammad Ridhoi  adalah menantu KH Sumanan Hidayat. Menantu almarhum Kyai Haji Sumanan Hidayat mengatakan bahwa pondok menerima santri berbagai latar belakang. Pihak pengurus pondok pesantren menerima santri berbagai latar belakang karena ingin mengamalkan hadist Nabi Muhammad Saw. Bahwa sebaik-baiknya manusia adalah bermanfaat bagi manusia. Dengan adanya pondok pesantren ini, harapannya dapat memberikan pelajaran agar dapat memuliakan sesama manusia.

Continue Reading
Advertisement
Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

space-iklan-300x250

TV DIGITAL MADU TV

space-iklan-300x400

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

%d blogger menyukai ini: