Nganjuk – BPSMP Sangiran Identifikasi dan Konservasi Koleksi Fosil Museum Anjuk Ladang

180

Nganjuk – BPSMP Sangiran Identifikasi dan Konservasi Koleksi Fosil Museum Anjuk Ladang

Balai pelestarian manusia purba, BPSMP Sangiran melakukan identifikasi dan konservasi pada ratusan koleksi fosil yang ada di Museum Anjuk Ladang, Kabupaten Nganjuk. Dalam kegiatan ini konservator melakukan beberapa tahapan, dengan tujuan agar koleksi fosil tetap terpelihara dengan baik.

Agar koleksi fosil yang ada di Museum Anjuk Ladang, Kabupaten Nganjuk, dapat terpelihara dengan baik, Balai Pelestarian Manusia  Purba (BPSMP) Sangiran melakukan identifikasi dan konservasi pada ratusan fosil.

Konservator menggali informasi terkait dengan tempat penemuan fosil, elemen fosil, taxon fosil, dimensi fosil, serta sedimen yang menyusun fosil. Sedangkan, dalam proses konservasi, diawali dengan perekaman data konservasi, yang dalam proses tersebut dapat menggunakan metode preventif untuk melakukan pencegahan dari kerusakan pada fosil sesuai dengan kondisi tempat penyimpanan fosil. Motode kuratif dengan mengintervensi fosil secara langsung menggunakan perlakuan khusus.

Proses konservasi tersebut dilakukan dengan cara merekam data, yang diantaranya terkait dengan berat fosil sebelum dan sesudah dilakukan konservasi, pengidentifikasian warna pada fosil, penentuan metode yang dilakukan sesuai dengan kondisi setiap fosil yang berbeda-beda.  Sementara itu koleksi fosil yang ada di Museum Anjuk Ladang diantaranya tanduk banteng purba, gajah purba, kerang purba, dan lain-lain.

Salah satu konservator, Yudha Herprima, mengatakan bahwa dalam melakukan konservasi pada fosil, diaplikasikan bahan yang sifatnya alami, seperti penggunaan jeruk nipis untuk proses pembersihan dan penggunaan minyak atsiri yang berasal dari tanaman serai yang disemprotkan pada permukaan fosil sebagai anti serangga. Selain itu juga dilakukan proses pendokumentasian pada setiap koleksi serta dilakukan input database mulai proses awal hingga akhir sebagai sumber data dalam melakukan kegiatan.

Kedepan diharapkan ada penempatan yang lebih representatif terhadap fosil serta fasilitas pendukungnya agar fosil-fosil tersebut terhindar dari kotor dan kerusakan. Selain itu fosil merupakan warisan budaya yang tidak dimiliki semua daerah, sehingga diharapkan kepada masyarakat yang menemukan fosil atau benda purbakala lainnya untuk melaporkan kepada pihak yang berwenang agar ada program terencana untuk menjaga kelestarian benda-benda tersebut.