Napi Terorisme yang Bebas dari LP Metro Lampung Tolak Ikrar NKRI

131

Sulteng – Teroris kelompok Santoso, Kang Su, kini dinyatakan bebas dari penjara setelah menjalani masa hukuman. Hal ini sesuai nomor putusan 1499/ Pen.Pid.Sus/2013/PN. Kang Su alias Sugianto, kini telah sah berstatus mantan narapidana terorisme. Ia dinyatakan bebas sesuai tanggal ekspansi akhir yaitu 5 Juli 2021.

Sugiatno atau Kang Su (44), narapidana terorisme asal Poso, Sulawesi Tengah, menghirup udara bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Metro, Lampung, setelah menjalani masa hukuman. Sugiatno/SU alias Abi Irul alias Faruq alias Udin merupakan teroris jaringan Santoso asal Poso Pesisir Utara, warga Desa Kalora, Sulawesi Tengah. Ia sempat menjadi buronan pada tahun 2012, hingga akhirnya menyerahkan diri di Markas Komando Distrik Militer 1307/Poso pada Kamis 27 Juni 2013.

Sutarjo menjelaskan bahwa meski sudah bebas menjalani hukuman, Sugiatno alis SU alias Abi Irul belum mau ikrar setia kepada NKRI. “Belum mau untuk cabut baiat atau ikrar NKRI dan masih teguh pada prinsip dan keyakinannya. Meski begitu kepribadianya cukup baik selama di LP Metro,” jelasnya.

“Sugiatno sudah menjalani hukuman selama enam tahun di Lapas Kelas IIA Metro. Selama menjalani hukuman, Sugiatno sangat dekat dengan napi lainnya. Ia memiliki perilaku yang baik,” kata Kepala Seksi Bimbingan Narapidana di LP Metro, Sutarjo.

Sementara itu, Su mengaku rindu dan ingin segera berkumpul bersama keluarga. “Alhamdulillah puji syukur ke hadirat Allah SWT. Hari ini saya telah bebas. Banyak kenangan, teman, serta saudara yang saya dapatkan di Lapas Kelas IIA Metro semasa menjalani hukuman. Meski berat, kini saya sudah bebas dan akan fokus kepada keluarga saya di rumah dan langsung akan pulang,” kata dia.

Sementara Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center yang juga merupakan mantan aktivis NII, Ken Setiawan, mengatakan bahwa kejadian seperti itu bukan pertama kalinya. Bahkan ada napi yang dijanjikan pembebasan bersyarat bila mau ikrar setia kepada NKRI. Akan tetapi, ada yang justru menolak dan memilih menjalani hukuman. (red)