Beranda Berita Mitigasi Bencana Bandara Baru Yogyakarta Dinilai Belum Matang

Mitigasi Bencana Bandara Baru Yogyakarta Dinilai Belum Matang

215
0

Peneliti badan pengkajian dan penerapan teknologi (B-P-P-T) Widjo Kongko berharap rencana pemerintah untuk mengoperasikan terbatas bandara baru Yogyakarta di bulan April 2019 ini ditunda. Dikarenakan sabuk hijau atau green belt dan gumuk pasir sebagai salah satu implementasi dari infrastruktur berbasis mitigasi belum dibuat. Mitigasi bencana untuk bandara baru Yogyakarta dirasa sampai saat ini belum matang. Terus dikebutnya pengerjaan bandara baru Yogyakarta, menunjukkan komitmen pemerintah dalam pengembangan infrastruktur layanan publik. Namun, ada tugas penting lain yang perlu segera diselesaikan, terkait bandara baru di Kabupaten Kulon Progo ini, yang lokasinya tidak jauh dari pantai selatan. Menurut perekayasa balai teknologi infrastruktur dan dinamika pantai, dan juga peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, B-P-P-T, Widjo Kongko, mitigasi bencana bandara baru Yogyakarta belum maksimal. Lokasi di sekitar bandara rawan bencana tsunami, mitigasi bencana yang dibangun semestinya dipersiapkan dengan baik dan matang. Hingga saat ini sabuk hijau, atau green belt dan gumuk pasir sebagai salah satu implementasi dari infrastruktur berbasis mitigasi belum dibuat. Menurut Widjo Kongko, sabuk hijau dan gumuk pasir, walaupun tidak mengurangi 100 persen gelombang tsunami, tetapi mampu mereduksi infrastruktur bandara. Meskipun upaya untuk mereduksi tsunami telah disiapkan, namun itu berdasarkan skenario tsunami dengan magnitude 8 point 3. Sementara berdasarkan hasil kajian terakhir sejumlah peneliti, di sekitar pantai selatan jawa ada megathust hingga 9 scala richer, artinya ada potensi bahaya lebih besar. Potensi tersebut diperkuat dengan ditemukannya sedimen yang diperkirakan berumur 400 hingga seribu 600 tahun yang terbentuk dari kejadian gempa bumi, dengan magnitude sekitar 9 scala richer dan diikuti tsunami besar, di dekat lokasi pembangunan bandara. Widjo Kongko – Peneliti BPPT, “Tetapi kemudian jika ini menjadi magnitude 8,8 harusada kajian ulang. Saya tidak yakindegan sabuk hijau dan gumuk pasir itu cukup. Harus ada kombinasi lain yait meninggkan runaway.” Nantinya di sekitar bandara baru Yogyakarta akan dibangun Aero City yang menjadi pusat berkumpulnya banyak orang, serta keberadaan aset-aset negara yang harus dilindungi. Untuk itu, mitigasi bencana yang matang merupakan kebutuhan mendesak sebelum bandara resmi dioperasikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

41 + = 47