Beranda Berita Menyiapkan Pesantren Masuki Era 4.0

Menyiapkan Pesantren Masuki Era 4.0

94
0

Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Kota Malang, Jawa Timur, terus berbenah dalam menyiapkan sumber daya manusia berkualitas agar mampu bersaing dan siap memasuki era revolusi industri 4.0. Menggandeng IKIP Budi Utomo Malang, pembelajaran berbasis pesantren dengan teknologi modern pun dikembangkan, agar para santri ini menguasi ilmu pengetahuan umum dan agama. Di era yang serba modern dan berteknologi canggih ini, peningkatan kualitas SDM, menjadi fokus yang terus digenjot oleh Ponpes Bahrul Maghfiroh Kota Malang, Jawa Timur. Saat ini, terdapat 400 santri menempuh pendidikan SMP dan SMU di tempat ini. 30 persen santri di ponpes ini berasal dari keluarga kurang mampu, dan tiap santri tidak dikenakan biaya apapun, selama pendidikan. Salah satu upaya ponpes untuk mewujudkan SDM yang berkualitas, adalah dengan menggandeng IKIP Budi Utomo Malang. Muhammad Bisri, selaku pengasuh ponpes pada Kamis malam mengatakan, bahwa ponpes akan menyinergikan kurikulum dengan silabus pembelajarannya. Sehingga antara penguasaan ilmu pengetahuan umum dan agama dalam kurikulum SMP dan SMA berbasis pesantren, berimbang. Tenaga pengajar pun turut menjadi kunci utama. Penempaan mereka dibantu oleh IKIP Budi Utomo, dan beberapa diantaranya sedang menempuh pendidikan S-2 di perguruan tinggi lain. Adapun muatan yang akan dipacu, yaitu penguatan ilmu agama, kewirausahaan, penguasaan teknologi informasi dan bahasa. M Bisri – Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh Malang, “Satu tentang manajemen guru yang baik dan benar. Kemudian berikutnya adalah menlinkan kurikulum dan silabus” Nurkholis Sunuyeko – Rektor IKIP Budi Utomo Malang, “Yang akan dilakukan IKIP Budi Utomo adalah bagaimana memberikan sent uhan teknologi, bagaimana memberikan sentuhan teknologi pembelajaran, bagaimana kita menyongsong 4.0 itu” Selain membantu berbagai peralatan laboratorium, dan menyiapkan para tenaga pendidik handal, IKIP Budi Utomo juga menguatkan proses belajar berbasis pesantren yang modern. Rektor IKIP Budi Utomo, Nurkholis Sunuyeko menyebutkan, program seperti ini terbilang langka, namun berpotensi besar untuk terus dikembangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

38 − = 28