Beranda Berita Membantu Orang Tua Mencari Nafkah Seorang Bocah Rela Menjadi Sukarelawan Penjaga...

Membantu Orang Tua Mencari Nafkah Seorang Bocah Rela Menjadi Sukarelawan Penjaga Lintasan Kereta Api

60
0

Berkeinginan membantu kedua orang tuanya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seorang bocah usia 12 tahun di Tulungagung, Jawa Timur, rela menjadi sukarelawan penjaga lintasan sebidang kereta api tanpa palang pintu, yang tak jauh dari rumahnya. Uang hasil jerih payahnya tersebut, seluruhnya diberikan kepada orang tuanya, untuk di tabung, dan biaya sekolah, apalagi dalam waktu dekat akan masuk ke S-M-P. Di perlintasan sebidang kereta api tanpa palang pintu di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur, inilah Dafa Bagus Dwi Saputra, bocah berusia 12 tahun, menjadi sukarelawan penjaga perlintasan sebidang kereta api tanpa palang pintu, yang menghubungkan desa gendingan dengan desa lainnya. Untuk menuju ke perlintasan kereta api tersebut, dafa atau juga sering di panggil kancil, cukup mengkayuh sepeda anginnya, karena lokasi perlintasan tak jauh dari tumahnya, hanya berjarak sekitar 500 meter. Setiap hari, dari pukul 5 hingga 6 petang, Dafa, menggantikan seorang sukarelawan lainnya, untuk menjalankan tugas mengatur hilir mudik kendaraan bermotor yang dikendarai warga, yang melintas diperlintasan kereta api tersebut. Apalagi, saat menjelang sore, sirene dan rambu bertenaga surya, tanda kereta api melintas, yang di pasang diperlintasan tersebut, tidak berfungsi, karena baterainya rusak. Dafa yang berkulit hitam legam, anak kedua dari empat bersaudara ini, seorang diri dengan cekatan mengatur hilir mudik kendaran bermotor dari dua arah berlawanan yang melintas dipelintasan kereta api, yang dijaganya. Bahkan jika ada tanda-tanda kereta api akan datang melintas, dafa, dengan berani menghentikan seluruh kendaraan yang akan melintas, dan baru diperbolehkan melintas, setelah kereta api melintas. Hampir 3 bulan atas kerelaannya sendiri, menjaga sukarelawan penjaga perlintasan kereta api, seringkali Dafa, di beri uang ala kadarnya dari warga yang melintas diperlintasan tersebut, meski banyak juga warga yang tak acuh dengan keberadaan Dafa. Rata-rata selama 1 jam menjaga perlintasan kereta api, dafa, dapat terkumpul uang recehan, sebanyak 10 ribu hingga 30 ribu rupiah. Seluruh hasil uang jerih payahnya tersebut, oleh dafa diberikan kepada ibunya, yang juga membuka warung kopi dirumahnya, untuk di tabung, dan biaya sekolah, apalagi dalam waktu dekat akan masuk ke bangku S-M-P. Sedangkan penghasilan ayahnya sendiri, sebagai tenaga pemungut sampah, dan juga sukarelawan penjaga perlintasan kereta api, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keberadaan Dafa ini, sangat membantu warga sekitar, karena dengan melalui perlintasan kereta api ini, jarak tempuh menuju desa di seberang, lebih dekat, dibandingkan lewat jalur utama, dan harus memutar sekitar 5 kilometer. Di saat puasa bulan ramadhan ini, si kancil atau Dafa, yang juga menjalankan ibadah puasa, sebelum berangkat ke perlintasan kereta api, menyempatkan diri membeli makanan, atau takjil sekedarnya, untuk santap buka puasa. Waktu buka puasa-pun tiba, istirahat di tepi rel kereta api, dafa, menikmati makanan takjil yang dibelinya tadi, sambil menunggu kedatangan sang ayah, untuk menggantikannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

53 + = 54