Lomba Sunggih Tempeh Pakai Kebaya Jawa Tempo Dulu

200

Probolinggo – Kemeriahan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78 sungguh memikat hati warga di berbagai penjuru tanah air. Baik di pedesaan maupun di kota, semangat patriotisme berkobar dengan berbagai perlombaan yang menarik, seperti halnya yang dilakukan oleh warga perumahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, dengan menggelar perlombaan unik berjudul “Lomba Sunggih Tempeh.”

Lomba Sunggih Tempeh, sebuah ajang yang tak asing lagi di pedesaan maupun perkotaan, telah menjadi tradisi tahunan yang meriah dalam memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus. Lomba ini khusus diikuti oleh kaum emak-emak atau ibu-ibu yang berani menunjukkan kepiawaian mereka dalam menyunggih tempeh dengan meletakkannya di atas kepala dan tetap berjalan tanpa menjatuhkan tempeh tersebut.

Suasana lomba begitu meriah dengan sorak-sorai penonton yang memberikan semangat kepada para peserta agar berhasil menyelesaikan lomba dengan gemilang. Keahlian dalam menyunggih tempeh ini memang dibutuhkan, terutama oleh para kaum emak-emak, karena tanpa kepiawaian yang cukup, tempeh yang dijinjing di atas kepala bisa saja jatuh.

Salah satu peserta lomba, Ibu Dodik, tampak sangat antusias dan bahagia dapat ikut serta dalam Lomba Sunggih Tempeh ini. Baginya, keikutsertaan dalam lomba bukan hanya sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi momen berkumpul dan menjalin silaturahmi dengan warga lainnya.

Menariknya, para peserta lomba diharuskan mengenakan pakaian kebaya dengan warna merah dan sefek khas Jawa. Hal ini tidak hanya menambah warna-warni dalam acara lomba, namun juga melestarikan kebudayaan dan tradisi Jawa yang turut menjadi bagian dari identitas Indonesia.

Lebih dari sekadar memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, kegiatan Lomba Sunggih Tempeh ini juga berhasil memupuk tali silaturahmi antarwarga. Semangat gotong-royong dan kebersamaan terlihat jelas dalam setiap aksi peserta lomba. Hal ini meneguhkan semangat persatuan dan kesatuan dalam keberagaman, menjadikan warga semakin kompak dan harmonis.

Setiap tahun, ketika bulan Agustus tiba, antusiasme warga untuk menyaksikan dan berpartisipasi dalam Lomba Sunggih Tempeh tidak pernah surut. Tradisi ini telah membuktikan bahwa perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya sekedar seremonial, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat ikatan kekeluargaan dan persaudaraan di tengah masyarakat.

Semangat patriotisme dan kebersamaan yang terpancar dari Lomba Sunggih Tempeh ini adalah cerminan dari semangat perjuangan para pahlawan bangsa yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Semoga semangat kebersamaan dan cinta tanah air tetap berkobar di hati setiap warga, mengawal Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang dan berjaya. Merdeka!