Kurangi Limbah Sampah, Siswa SD di Blitar Sulap Botol Bekas Minuman Jadi Aneka Barang Kerajinan

210

BLITAR – Peduli akan dampak bahaya sampah, ratusan siswa Sekolah Dasar Islam (SD Islam) Sunan Pandanaran, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, menyulap limbah sampah menjadi barang kerajinan yang bernilai tinggi.

Berbagai limbah sampah, organik, dan non-organik, seperti botol bekas minuman dan juga plastik bungkus jajanan diolah dan dijadikan aneka barang kerajinan yang dapat menghasilkan uang.

Muhammad Lutfan salah satu murid kelas 1A ini mampu menyulap botol bekas minuman menjadi celengan. Tidak lupa ia menghiasi botol-botol ini dengan berbagai hiasan yang menjadikan celengan tempat penyimpanan uang ini lebih menarik.

“Bikinya hanya sehari, pas selesai pulang sekolah, sehari dapat satu,” ungkapnya, Sabtu (05/11/2022).

Setelah celenganya terkumpul, oleh Lutfan kemudian dijual kepada teman-teman di sekolahnya. Terkadang ia juga menjual kepada teman-teman di lingkungan rumahnya dengan harga Rp2.000 per buah.

Sementara Jasmine siswa kelas 1B ini juga tidak mau ketinggalan. Ia mengumpulkan stik bekas es cream yang dibelinya dan menyulap menjadi kerajinan kotak tempat bolpoin.

Untuk membuat satu kotak bolpoin ini, Jasmine membutuhkan waktu dua hari lamanya.

Kepala Sekolah Dasar Islam (SDI) Sunan Pandanaran Ananda Emiel Kamala mengatakan, kegiatan siswa ini bentuk penerapan program Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini lebih penguatan nilai-nilai Pancasila, sebagai problem solver berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

Emiel menjelaskan ia ingin siswa-siswinya dapat memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Barang yang semula hanya sampah, diolah untuk dijadikan barang kerajinan yang bermanfaat dan memiliki nilai jual. “Kita mulai terapkan program ini sejak dini,” tegasnya.

Selain itu Emil juga berharap, program ini tidak hanya berhenti di sekolah tapi di rumah. Untuk membuat produk dan memecahkan masalah ini juga melibatkan orang tua. Ini dilakukan agar saling sadar diri untuk persoalan limbah menjadi persoalan yang luar biasa.

Emiel menegaskan untuk jenis limbah dapur diolah untuk dijadikan kompos dan pupuk tanaman di sekolah. Bahkan untuk pelatihan juga mendatangkan pengolah sampah dari yang sudah memiliki pengalaman.

Untuk sementara, program Kurikulum Pancasila ini diterapkan pada siwa kelas 1 dan kelas 4. Untuk kelas 1 ada 3 rombongan belajar (rombel) dan kelas 4 ada 4 rombel.(sk)