spot_img
Sabtu, Maret 7, 2026
Beranda NASIONAL Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana, Menteri Sosial Siapkan 4 Langkah Strategis

Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana, Menteri Sosial Siapkan 4 Langkah Strategis

246

Jakarta – Menteri Sosial, Tri Rismaharini, mengajak semua pihak terkait dan jajaran Kementerian Sosial agar bersiap menghadapi potensi bencana alam yang datangnya tiba-tiba. Ia mengimbau masyarakat untuk melakukan 4 langkah stategis. 

Pertama, segera melakukan berbagai langkah antisipasi dengan menjelaskan kepada masyarakat agar memahami tentang bahaya bencana. Dengan begitu, ada persiapan untuk mengahadapinya, termasuk dengan cara-cara kearifan lokal di tengah masyarakat. “Kita belajar dari bencana di Palu. Yang sebelumnya sudah ada peringatan akan terjadinya bencana, tapi  tidak ada respon. Dampaknya bisa kita saksikan begitu banyak korban jiwa,” ujar Mensos saat memberikan arahan. Arahan ini ia sampaikan berkaitan dengan materi kesiapsiagaan menghadapi bencana oleh Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial, di Jakarta, Rabu (21/7/2021) pagi.

Kedua, dalam situasi bencana, komunikasi menjadi kendala yang tidak mudah teratasi. Hal ini memang karena kondisi tidak normal, sehingga berdampak pada sulitnya pengiriman bantuan dan kebijakan seperti apa yang harus dilakukan. 

Permasalahan juga muncul karena adanya kendala komunikasi di lokasi bencana, tim hanya fokus di satu titik yang dianggap parah. Padahal di titik lain justru lebih parah dan sangat memerlukan bantuan yang harus segera tersampaikan. Sangat penting menggandeng teman-teman dari Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) dan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI). Secara teknis, mereka menguasai kondisi bencana di lapangan dan mereka bisa membantu komunikasi saat terjadi bencana,” ungkap Mensos.

Ketiga, perlu mereka memahami ramalan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Jangan menganggap remeh sebab ramalan tersebut sudah melalui tahap dan langkah-langkah serta kajian ilmiah.  “Saya kira ini penting, memahami ‘ramalan’ BMKG itu menjadi early warning (peringatan dini) karena ada berbagai kajian ilmiahnya. Kendati kita tahu bahwa semua itu atas kehendak Tuhan, tapi sebagai manusia kita harus berusaha. Dengan segala daya untuk mengantisipasi terjadinya dampak bencana alam tersebut, ” terang Mensos. 

Keempat, perlu melakukan pengecekan peralatan yang mereka perlukan dalam menghadapi bencana alam. Seperti cara memberikan tanda di rumah yang terdapat anggota keluarga penyandang disabilitas, seperti tuna netra atau lanjut usia (lansia). Tanda ini bisa berupa silang (X) atau yang lainnya, sehingga saat terjadi bencana, tim evakuasi bisa dengan mudah mengenali rumah dengan tanda tersebut. Hal ini dapat mempermudah agar warga yang prioritas dapat tim evakuasi ke tempat aman.

“Saat terjadi bencana, penyandang disabilitas, netra, ataupun lansia tidak tahu harus melakukan apa. Maka dengan tanda khusus di rumah itu, membuat tim evakuasi bisa cepat melakukan pemindahan ke tempat lebih aman serta jumlah korban jiwa bisa minim, ” tandas Mensos.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa ada 10 kajian ilmiah terkait prediksi bencana yang jelas dalam sebuah peta, untuk memudahkan pemahaman dengan tiga warna. Yakni merah, kuning, dan hijau.

“Misalnya peta daerah Pacitan, Jawa Timur, warna merah menunjukkan gelombang tinggi 10-14 meter, semakin merah semakin tinggi pula gelombang. Warna kuning gelombang 2-3 meter, serta warna hijau gelombang ½ meter, ” ungkap Dwikorita. 

Di kota Palu sudah siap sejak 2009-2015. Semua elemen masyarakat bersiap menghadapi situasi bencana alam, mulai dari Walikota, Bapeda, Dinas Tata Ruang, pihak sekolah, dan pihak-pihak terkait lainnya.  “Saya setuju dengan yang Bu Mensos sampaikan terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana yang begitu strategis. Kita juga perlu mempersiapkan bangunan yang rancangannya tahan guncangan gempa hingga 8,7 skala richter (SR), ” katanya. (red)