Connect with us

Lingkungan

Kepala BMKG: Perubahan Iklim Jadikan Ilmu Titen “Ambyar”

Diterbitkan

pada

Nelayan mengevakuasi kapal/perahu pancing yang terbalik di tepi Pantai Sine, Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (25/7). Gelombang tinggi yang mencapai 4,4 meter di Teluk Sine menyebabkan banjir rob dan sejumlah kapal nelayan rusak dihempas ombak. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/18

Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan ilmu titen (kepekaan terhadap tanda-tanda atau ciri-ciri alam) yang kerap menjadi pegangan nelayan ambyar akibat perubahan iklim.

Sehingga, tidak jarang nelayan harus pulang dengan tangan kosong, karena hasil melaut tidak maksimal, bahkan tidak jarang nelayan mengalami kecelakaan dan menjadi korban akibat badai dan gelombang tinggi.

Ilmu titen sudah sangat sulit untuk dijadikan acuan. Cuaca dan iklim saat ini sangat dinamis dan sulit ditebak, ujar Dwikorita dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.

Saat membuka Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (7/10), Dwikorita mengatakan perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat.

Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi, tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia, seperti kualitas dan kuantitas air, habitat, hutan, kesehatan, lahan pertanian, termasuk ekosistem wilayah pesisir.

Perubahan iklim adalah peristiwa global, namun dampaknya dirasakan secara regional ataupun lokal. Tidak ada batasan teritorial negara, ujar dia.

Kondisi inilah yang memacu BMKG untuk menggencarkan pelaksanaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan di daerah-daerah pesisir pantai. Melalui SLCN yang digelar, BMKG ingin nelayan dapat melaut, mendapatkan hasil dan pulang dengan selamat.

SLCN, kata dia, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan nelayan Indonesia dalam mengakses, membaca, menindaklanjuti dan mendiseminasikan informasi cuaca, iklim maritim serta informasi prakiraan lokasi ikan dari sumber yang terpercaya. Selain itu, SLCN juga menjadi bagian dari ikhtiar BMKG mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Kegiatan SLCN ini menggunakan pembelajaran interaktif, yaitu metode belajar dan praktik. Materi pokok yang akan diberikan yaitu pengenalan produk dan memahami informasi cuaca dan iklim maritim, cara membaca informasi maritim dan pengenalan alat-alat observasi, kata Dwikorita.(*)

Continue Reading
Advertisement

Lingkungan

Tim BKSDA Riau Temukan Gajah Liar Sakit

“memastikan gajah liar sumatera tersebut benar-benar pulih”

Diterbitkan

pada

Seekor satwa Gajah liar memasuki perkebunan sawit masyarakat itu dalam kondisi sakit. (Foto:ANTARA/HO-Tim BKSDA Riau)

Pekanbaru – Tim gabungan Balai Besar KSDA Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dan Yayasan TNTN melakukan tindakan perawatan terhadap seekor gajah liar yang dilaporkan mengalami sakit di Desa Pontian Mekar (SP 4), Kecamatan Lubuk Batu Jaya, Kabupaten Indragiri Hulu.

“Informasi gajah liar tersebut pertama kali terlihat oleh masyarakat setempat hingga langsung dilaporkan kepada petugas anggota Intel Kodim 0302 Indragiri Hulu dan selanjutnya diteruskan ke pihak BKSDA Riau. Dan laporan tersebut diterima Tim Seksi Konservasi Wilayah I, Pangkalan Kerinci,” kata Plt Kepala Balai Besar KSDA Riau, Fifin Arfiana Jogasara, dalam keterangannya Kamis.

Menurut dia, berdasarkan laporan tersebut seekor satwa gajah liar memasuki perkebunan sawit masyarakat itu dalam kondisi sakit.

Selanjutnya, pada Jumat (22/10), Tim Resort Kerumutan Selatan langsung turun ke lokasi untuk melakukan pengecekan lapangan bersama Kades Pontian Mekar dan masyarakat setempat.

“Di lokasi tim menemukan seekor gajah liar dewasa betina, kurus dan dalam kondisi lemas,” kata Fifin.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengamatan di lokasi, gajah dipastikan sakit setelah tim melihat makanan yang dimakan dimuntahkan kembali yakni batang dan pelepah sawit. Kemudian, langsung dilakukan perawatan.

“Selain melakukan perawatan, petugas juga menyisipkan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat, agar tidak melakukan tindakan anarkis satwa yang dilindungi termasuk gajah sumatera,” katanya.

Fifin juga mengapresiasi masyarakat setempat yang turut andil melancarkan proses penanganan gajah tersebut, dengan menjaga tim medis saat melakukan perawatan.

Proses pengobatan kata Fifin, mulai dilakukan tim gabungan setelah tiba dilokasi pada Sabtu (23/10). Untuk memperlancar pengobatan petugas terlebih dahulu melakukan pembiusan.

Hasil pengecekan tim medis, gajah liar tersebut berjenis kelamin betina, berusia sekitar 30 tahun dengan tinggi 217 sentimeter dan berat 2 ton.

“Sedangkan, kondisi yang ditemukan tim di lapangan, gajah terlihat kurus dengan kondisinya kurang nafsu makan. Selain itu, juga mengalami radang pembengkakan dan luka terbuka pada bagian organ reproduksi luar yang telah ada larva/ulat dibagian tersebut,” katanya.

“Mencegah lukanya semakin parah, tim melakukan langkah pembersihan luka dan pemberian obat topikal pada daerah luka. Kemudian pengambilan sampel darah untuk mengetahui kondisi kesehatan gajah secara umum, dan sample darah akan dikirim ke laboratorium,” katanya.

Setelah melalui proses pengobatan, selanjutnya Tim medis menyadarkan satwa dan melepasliarkan gajah liar kembali ke habitatnya. Kemudian dibarengi melakukan pemantauan dan pengamatan pergerakan satwa untuk mengetahui kondisi selanjutnya.

“Paska diobati, hasil pengamatan tim di lapangan gajah terlihat bergerak lebih gesit dari sebelum pengobatan,” kata Fifin.

Sementara itu, hasil pemantauan yang dilakukan pada hari Senin (25/10) oleh Tim patroli Yayasan TNTN dari Desa Lubuk Kembang Bunga, gajah liar tersebut dipastikan telah berbaur dengan kelompoknya. Kemudian hasil koordinasi dengan masyarakat setempat, dikabarkan bahwa gajah liar tersebut sudah mengarah ke hutan tersisa kawasan Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang berada disekitar Bukit Apolo dan pondok Kompe.

“Tim di lapangan akan melakukan pemantauan kembali untuk memastikan gajah liar sumatera tersebut benar-benar pulih dan aman serta kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Teso Nilo,” katanya.(antara/*)

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: