Kasus KDRT di Sidoarjo Melonjak Jadi 369 Kasus

84

Sidoarjo – Kasus kekerasan dalam rumah tangga di Sidoarjo Jawa Timur, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Jika pada tahun 2017-2018 tercatat sekitar 250 kasus, tahun 2021-2022 melonjak menjadi 369 kasus. Hal itu dipicu adanya nikah siri, poligami, maupun kekerasan dalam bentuk lainnya.

Ungkapan itu disampaikan oleh anggota peradi surabaya, nofitasari handayani assegaf, yang juga sebagai narasumber pada acara sarasehan perlindungan hukum terhadap korban kekerasan pada perempuan dan anak atau KDRT, yang digelar oleh pimpinan anak cabang fatayat nu Wonoayu, yang berlangsung di kantor MWCNU Wonoayu jalan masjid an-nur pilang.

Menurut pengacara, Nofitasari Handayani Assegaf, dari jumlah total kasus yang tertangani di kantor Novar and Partners, pada tahun 2017-2018 tercatat 250 kasus pertahunnya. Sedangkan tahun 2021-2022 sekitar 369 kasus. Artinya, modus operandi kekerasan dalam rumah tangga, pada perempuan dan anak, marak terjadi dan mengalami peningkatan.

KDRT sendiri dinilai salah satu perbuatan tercela, yang sangat bertentangan dengan sendi-sendi kehidupan kemanusiaan, hak asasi manusia, norma agama, moral juga etika. Sehingga dibutuhkan penegakan hukum, lawyer dan aktivis perempuan yang peka dan peduli terhadap perempuan dan nasib anak bangsa. Maupun perlindungan hukum, untuk melindungi serta mencegah terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Oleh sebab itu, perlu adanya peran dari pemerintah maupun instansi atau lembaga terkait, untuk terus mengupayakan bantuan hukum guna mengurangi jumlah kasus KDRT. Supaya keadilan bisa dirasakan oleh seseorang, terutama ibu rumah tangga dan korban KDRT dan anak.

Diketahui bahwa, kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikologis, seksual, dan penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Setiap pelaku tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga juga pada perempuan dan anak, bisa dikenakan pidana kurungan penjara 6-2 tahun, dan denda kurang lebih 15 juta rupiah. (mk)