GEREJA MERAH BANGUNAN CAGAR BUDAYA PENINGGALAN BELANDA YANG BERUMUR 118 TAHUN

239

KEDIRI – Gereja Merah yang berada di seputaran Bundaran Sekartajji, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, ini memiliki nama asli Gereja Protestan Barat Immanuel. Dari catatan prasasti, Gereja Merah ini diresmikan pada 21 Desember 1904 oleh pendeta Dominus J.A.Broers.

Nama Gereja Merah sendiri mulai digunakan sejak sekitar tahun 1996, setelah seorang pendeta kala itu memutuskan merubah warna gereja dari putih gading ke warna merah.

Hingga kini, warna tersebut dipertahankan sebagai ciri khas gereja yang masuk dalam cagar budaya itu.

Arsitektur Gereja Merah ini sangat khas dengan gaya jaman Kolonial Belanda dengan pintu dan jendela yang masih asli terbuat dari kayu jati, kaca, serta bangunan terbuat dari batu bata. Mimbar, kursi, dan lemari juga masih tetap tidak diubah.

Selain itu, di gereja juga masih tersimpan rapi kitab injil kuno yang kini telah berusia ratusan tahun. Kitab injil kuno dengan ukuran 43 x 29 cm dengan ketebalan 10 cm tersebut diterbitkan pada September 1867 oleh De Nederlandtche Bijbel Compagnie dengan Bahasa Belanda.

Kitab injil tersebut disimpan di kotak kaca. Meski warna kertasnya telah berubah setengah cokelat, namun tulisannya masih jelas dan dapat terbaca. Kitab injil terbitan 1867 tersebut dapat bertahan lama karena dilapisi dengan sampul kulit yang cukup tebal.

Menjelang nomentum perayaan natal ini, gereja merah mulai mempercantik diri. Pernak-pernik natal mulai terpasang di dinding gereja, termasuk pohon natal.