Connect with us

Bisnis

Dubes Polandia: Omnibus Law Buat Iklim Lebih Ramah bagi Investor Asing

Diterbitkan

pada

Duta Besar Polandia untuk Indonesia, Beata Stoczynska (kanan), dalam wawancara bersama Antara di Kedutaan Besar Polandia, Jakarta, Selasa (12/10/2021). (Bayu Prasetyo) (Bayu Prasetyo)

Jakarta – Duta Besar Polandia untuk Indonesia Beata Stoczynska mengatakan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja (Ciptaker) menciptakan iklim investasi yang lebih ramah bagi investor asing untuk menempatkan investasi mereka di Indonesia.

“Terima kasih kepada Presiden Joko Widodo tentang Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja. Undang-Undang ini bawa lingkungan yang lebih ramah bagi investor asing,” kata Stoczynska dalam wawancara khusus dengan ANTARA di Kedutaan Besar Polandia, Jakarta, Selasa.

Dubes Beata Stoczynska mengatakan UU Ciptaker tidak hanya baik untuk investor asing melainkan juga untuk pasar domestik maupun pekerja.

“Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja menciptakan peluang yang baik bagi pengusaha, pekerja, maupun seluruh lingkungan bisnis. Omnibus Law ini penting bagi orang asing dan orang Indonesia itu sendiri,” ujar Dubes Beata Stoczynska.

Ia mengatakan undang-undang ini merupakan langkah yang sangat luar biasa yang dapat menarik investasi asing untuk masuk ke Indonesia.

Omnibus Law membawa dampak positif bagi iklim investasi di Indonesia serta lingkungan yang lebih baik bagi pengusaha asing,” kata dia.

UU Ciptaker disahkan dan ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 November 2020 dan menjadi UU No 11 Tahun 2020.

Presiden meyakini UU Ciptaker akan memperbaiki kehidupan para pekerja dan juga keluarganya.

Presiden menjelaskan alasan disusunnya UU tersebut, antara lain tingginya kebutuhan terhadap lapangan kerja. Setiap tahun, terdapat 2,9 juta penduduk usia kerja baru atau generasi muda yang siap masuk ke pasar kerja.

UU Ciptaker bertujuan untuk menyediakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya bagi para pencari kerja dan pengangguran, kata Presiden Jokowi.(antara/*)

Continue Reading
Advertisement

Artikel

Demi Petani dan Kedaulatan Pangan RI, Belarus pun Dijajaki

“Kita ingin belajar bagaimana Belarus mencapai kedaulatan pangannya, membangun pertanian dan peternakannya.”

Diterbitkan

pada

Wakil Ketua DPR RI Bidang Koordinasi Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel (tengah berjas biru) saat melihat traktor tangan buatan Belarus Minks Tractor Works, di Minks, Belarus, Jumat. ANTARA/Risbiani Fardaniah.

Jakarta – “Saya tertarik dengan potasium di sini,” ujar Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, saat ditanya mengapa melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Belarus menjelang akhir Oktober ini.

Potasium atau kalium merupakan bahan baku pupuk majemuk NPK yang dibutuhkan petani untuk produktivitas dan hasil pertanian yang berkualitas.

Dan Belarus merupakan salah satu penghasil potasium terbesar di dunia, di samping Kanada dan Rusia. Kandungan potasium di tambang milik Beraruskali yang dikunjungi Rachmat Gobel dan rombongan saja diperkirakan mencapai 6,6 miliar ton yang cukup untuk operasional perusahaan selama lebih dari 120 tahun.

Potasium juga lah yang selama ini mendominasi perdagangan Indonesia dan Belarus.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, dari total neraca perdagangan kedua negara yang mencapai 165,2 juta dolar AS pada 2020, sebesar 141,97 juta dolar AS adalah impor potasium Indonesia dari Belarus. Demikian pula pada periode Januari-Agustus 2021 dari nilai perdagangan sebesar 153,4 juta dolar AS, sebesar 146,6 juta dolar AS ada impor potasium.

Belarus memang bukan satu-satunya produsen potasium, namun yang membuat Wakil Ketua DPR RI Koordinator Industri dan Pembangunan (Korinbang) Rachmat Gobel tertarik pada negara bekas pecahan Uni Sovyet itu adalah kemampuan Belarus menjaga ketahanan pangannya, bahkan mampu mengekspor produk pertaniannya seperti susu dan produk turunan, daging, hingga hasil tanaman pangan.

“Kita ingin belajar bagaimana Belarus mencapai kedaulatan pangannya, membangun pertanian dan peternakannya,” ujar Rachmat Gobel yang juga mantan Menteri Perdagangan itu.

Karena itulah ia didampingi oleh Ketua Komisi VIII DPR RI Sugeng Suparwoto, Anggota Komisi XI Heri Gunawan, Anggota Komisi X Ratih Megasari, Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam, Staf Ahli Menteri Perdagangan Sutriono Edi, Dirut PT Pupuk Kalimantan Timur Rahmad Pribadi serta Dubes RI untuk Rusia dan Belarus Jose AM Tavares. Sayangnya, tidak ada perwakilan Kementerian Pertanian RI dalam kunker tersebut.

Sebelum melakukan berbagai pertemuan dengan kementerian teknis terkait pertanian di negara yang dipimpin Presiden Alexander Lucasenko itu, Rachmat Gobel lebih dahulu bertemu dengan koleganya sesama parlemen.

Kedatangan Delegasi Indonesia itu disambut langsung oleh Wakil Ketua Parlemen Belarus Valery Mitskevich dan kemudian bertemu dengan Ketua Parlemen Belarus Mr Vladimir Andreichenko.

Pimpinan parlemen kedua negara sepakat mendorong pemerintah di negara masing masing untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, termasuk pertanian.

Pertanian Belarus……..>>>

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: