Connect with us

Kajian Islam

Doa Masuk dan Keluar Rumah

Diterbitkan

pada

Ada panduan doa masuk dan keluar rumah. (Foto: NOJ/KLo)

Ahmad Fatoni – Saat hendak masuk dan keluar rumah, kaum muslimin disarankan untuk membaca doa. Hal tersebut tentu saja demi mengingatkan sekaligus meminta perlindungan. Karena baik di rumah apalagi kala di luar akan banyak potensi yang bisa jadi mencelakakan. Karenanya meminta perlindungan sangatlah penting dengan berdoa kala masuk maupun keluar rumah.

Dan salah satu yang disarankan adalah membaca basmalah dan berdzikir kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Yang tidak boleh dilupakan adalah mengucapkan salam ketika hendak masuk rumah baik di dalamnya ada penghuninya atau tidak.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surat an-Nur ayat 61:

فَاِ ذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً

Artinya: Apabila memasuki rumah-rumah, hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah.

Pada saat yang sama, pengucapan salam harus dilakukan dengan penuh penghormatan yang semata-mata mengharap berkah dan kebaikan. Penjelasan akan hal in I sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Anas Radiyallahu ‘Anhu:

قال لي رسول الله صل الله عليه و سلم: يا بنيّ، إذا دخلت على اهلك، فسلّم، تكن بركة عليك و على اهل بيتك

Artinya: Rasullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bekata kepadaku: Wahai anakku, jika kamu masuk menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam, agar datang keberkahan atasmu dan penghuni rumahmu.

Makna barakah di sana adalah harapan adanya tambahan kebaikan, kasih sayang dan ketentraman dari Allah. Dengan demikian, ada lingkup kebaikan yang ada di dalam rumah dengan penghuninya.

Selain mengucapkan salam, seseorang juga disunahkan untuk membaca doa masuk rumah. Berikut lafadznya sesuai tuntunan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam:

اللّٰهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ المَوْلِجِ وَ خَيْرَ المَخْرَجِ, بِاسْمِ اللّٰهِ وَ لَجْنَا، بِاسْمِ اللّٰهِ خَرَجْنَا، وَ عَلَى اللّٰهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan tempat masuk dan kebaikan tempat keluar, dengan menyebut nama-Mu kami masuk, dengan menyebut nama-Mu kami keluar, dan hanya kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakkal.

Selain masuk rumah, Rasulullah juga menuntun kita untuk berdoa ketika hendak keluar rumah. Berikut lafadznya:

بِاسْمِ اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ وَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ

Artinya: Dengan menyebut nama Alllah, aku bertawakkal kepada-Nya dan tidak daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.

Faedah membaca doa itu dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, at-Tirmidzi, Nasa’i dan lainya. Hal tersebut sebagaimana dikutip Imam Abi Zakariya Muhyiddin Yahya al-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar an-Nawawi. Hadits ini melalui jalan sahabat Anas  Radliyallah ‘Anhu, bahwa Rasulullah berpesan kepadanya.

من قال- يعني اذا خرج من بيته- بِاسْمِ اللّٰهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللّٰهِ وَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ، يقال له: كفيت و وقيت و هديت و تنحّى عنه الشيطان

Artinya: Barangsiapa yang membaca —yaitu ketika keluar dari rumahnya—‘bismillahi tawakkaltu ‘alallahi wa laa haula wa laa quwwata illa billah, Dikatakan kepadanya: Kamu akan dicukupkan, dikuatkan, dan diberi petunjuk dan setan jauh darinya.

Syeikh Muhyiddin Dib menjelaskan terkait faedah membaca doa tersebut. Menurutnya, makna kufiita: seseorang akan dicukupkan dari semua urusan dunia dan akhirat, wuqiita: dijaga dari kejahatan musuh, hudiita: diberikan rizki berupa hidayah yang terus mengalir kepadanya. (Muhyiddin Dib, Lawami’ al-Anwar Syarh Kitab al-Adzkar, Bairut, Dar Ibn Kathir, 2014), Juz 1, halaman: 74).

Wallahu a’lam

Penulis adalah Alumnus Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang dan Tinggal di Sumenep.

Continue Reading
Advertisement

Kajian Islam

Doa agar Mudah Menerima Kenyataan Hidup

Diterbitkan

pada

Perbanyak berdoa agar siap menerima kenyataan hidup. (Foto: NOJ/Pinterest)

Syaifullah – Hidup penuh dengan dinamika, kadang realita tidak berbanding lurus dengan yang di angan. Karenanya, sejak awal sudah memiliki kesadaran bahwa tidak jarang kenyataan hidup di luar yang diharapkan.

Sadar dengan kenyataan tersebut, maka sejak awal hendaknya sudah memiliki komitmen tersebut. Dan salah satu yang dianjurkan untuk mengucap kalimat sebagai berikut:

حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl. 

Artinya: Cukuplah Allah bagiku dan ia sebaik-baik wakil.

Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Imam Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi. Semangat anjuran ini bukan hanya terletak pada pelafalan kalimat: ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl’, tetapi pada penguasaan emosi dan penguatan mental serta mengembalikan persoalan berat kepada Allah ketika menerima sebuah kenyataan meski pahit sekalipun.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ فَقَالَ الْمَقْضِىُّ عَلَيْهِ لَمَّا أَدْبَرَ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ يَلُومُ عَلَى الْعَجْزِ وَلَكِنْ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ فَإِذَا غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya: Dari Auf bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW memutuskan perkara di antara dua orang. Orang yang berperkara ketika berpaling mengucap: ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.’ Rasulullah kemudian bersabda: Allah mencela kelemahan. Sebaliknya, kau harus kuat. Jika kau dirundung oleh suatu masalah, hendaknya mengucap: Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl’. (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi).

Uraian ini diangkat oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah perihal menerima qadha dan qadar pada karyanya Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib. Menurutnya, agama melarang untuk mengumpat dengan aneka kalimat yang buruk dan membawa mudharat serta tidak bermanfaat.

Agama menuntut seseorang untuk melakukan upaya maksimal sebelum akhirnya kenyataan tiba. Jika takdir berkata lain, maka ia dapat mengucap: ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl. Kalimat ini cukup terpuji bila seseorang mengerahkan upaya maksimal sebelum kenyataan tiba. Adapun seseorang menjadi tercela menurut agama kalau hanya mengandalkan kalimat tersebut tanpa didahului oleh upaya maksimal/ikhtiar. (Lihat Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib, [Kairo, Darur Rayyan lit Turats: 1987 M/1408 H], cetakan pertama, halaman: 228-229).

Tetapi lafal ini dapat dimaknai sebagai sebuah doa agar hati kita dimudahkan dalam menerima kenyataan pahit yang sudah ditakdirkan oleh Allah.

Wallahu a’lam. 

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: