Connect with us

Kajian Islam

7 Adab Iringi Jenazah menurut Imam al-Ghazali

Diterbitkan

pada

Ada 7 adab dalam mengiringi jenazah menurut Imam al-Ghazali. (Foto: NOJ/KJ)

Syaifullah – Seiring dengan banyaknya kabar kematian, maka ada sejumlah adab yang harus diperhatikan. Setidaknya ada 7 adab saat mengiringi jenazah sebagaimana dijelaskan Imam al-Ghazali.

Disebutkan dalam sejumlah keterangan bahwa hukum mengiringi atau mengantar jenazah ke pemakaman adalah sunah. Perintah ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim sebagaimana penggalan berikut:

وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ

Artinya: Apabila seorang muslim mati, iringilah jenazahnya. (HR Muslim).

Dalam mengiringi jenazah ada beberapa adab tertentu yang hendaknya diperhatikan sebagaimana dinasihatkan Imam al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 438), sebagai berikut:

آداب المشي في الجنازة: دوام الخشوع وغض البصر وترك الحديث وملاحظة الميت بالاعتبار والتفكر فيما يجيب به من السؤال والعزم على المبادرة فيما يخاف به من المطالبة وخوف حسرة الفوت عند هجوم الموت

Artinya: Adab mengiringi jenazah, yakni: senantiasa khusyu’, menundukkan pandangan, tidak bercakap-cakap, mengamati jenazah dengan mengambil pelajaran darinya, memikirkan pertanyaan kubur yang harus dijawabnya, bertekad segera tobat karena ingat segala amal perbuatan semasa hidup pastilah dimintai pertanggung jawaban, berharap agar tidak termasuk golongan yang akhir hidupnya buruk ketika maut datang menjemput.

Dari kutipan di atas dapat diuraikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Senantiasa Khusyu’

Mengiringi jenazah hendaknya dilakukan secara khusyu’ dan tidak boleh dengan bersenda gurau. Setiap pelayat yang mengiringi jenazah hingga ke tempat pemakaman hendaknya senantiasa menyadari bahwa kematian tentu menimbulkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan si mayit.  Oleh karena itu sikap khusyu’ harus diupayakan demi menghormati perasaan duka mereka.

Selain itu, adanya anjuran dari Rasulullah agar para pengiring jenazah berlaku khusyu’ menandakan bahwa kegiatan ini bukan semata-mata bersifat sosial, tetapi sekaligus merupakan ibadah yang bernilai pahala.

  1. Menundukkan Pandangan

Mengiringi jenazah adalah ibadah. Orang beribadah terikat dengan adab yang berlaku demi membaguskan amal. Menundukkan pandangan dan tidak membiarkan mata melihat kemana-mana sangat membantu memungkinkan para pelayat mengiringi jenazah dengan khusyu’ sehingga lebih bisa meresapi suasana duka. Memang menunjukkan sikap berduka atau bela sungkawa khususnya kepada kerabat yang ditinggalkan termasuk hal yang dianjurkan.

  1. Tidak Bercakap-cakap

Menghindari percakapan yang tidak perlu di antara sesama pelayat memang harus diupayakan. Suasana khidmat dan khusyu’ bisa terganggu oleh suara berisik dari percakapan para pelayat yang tak terkontrol.
Tetapi berbeda halnya jika suara yang keluar adalah kalimat thayyibah (لا اله إلا الله محمد رسول الله).

Kalimat ini bagus diucapkan oleh para pelayat karena mengingatkan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya dan dapat menciptakan suasana khidmat dan khusyu’ di antara para pengiring jenazah.

  1. Memperhatikan Jenazah

Memperhatikan jenazah secara seksama adalah penting bagi siapa saja karena akan mengingatkan bahwa setiap yang hidup akan mati. Tetapi kematian bukanlah akhir. Ia justru merupakan awal dari kehidupan yang sesungguhnya di mana setiap orang akan dimintai pertanggung jawaban atas kehidupan yang mereka jalani di dunia.

Diharapkan dengan mengambil pelajaran dari orang yang meninggal para pengiring jenazah dapat bersikap lebih hati-hati terutama jangan sampai hidupnya berakhir buruk. Siapapun yang akhir hidupnya buruk sudah pasti akan berurusan dengan neraka kelak di akherat.

  1. Memikirkan Pertanyaan dalam Kubur

Para pengiring jenazah hendaknya memikirkan enam pertanyaan yang akan diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir kepada mayit di dalam kubur. Keenan itu adalah siapa Tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu, apa kitabmu, di mana kiblatmu, dan siapa saudara-saudaramu.

Keenam itu penting untuk diingat dan dimengerti jawabannya. Namun cara mengingatnya bukan dengan menghafalkan satu per satu dari keenam pertanyaan itu beserta jawabannya tetapi dengan melaksanakan perintah Allah secara istiqamah khususnya shalat lima waktu.

Shalat adalah salah satu kunci sukses untuk menjawab keenam pertanyaan tersebut sebab jawaban dari masing-masing pertanyaan itu terintergrasi di dalam pelaksanaan shalat.

  1. Bertekad segera Tobat

Karena ingat segala amal perbuatan semasa hidup pastilah dimintai pertanggung jawaban. Mengiringi jenazah hingga tempat pemakaman dan dikuburkan amat besar manfaatnya. Setidaknya hal ini akan menyadarkan bahwa kemana pun manusia pergi pada akhirnya tempat yang dituju adalah liang lahat yang berukuran sempit.

Di dalam kubur itulah kita mulai diminta pertanggung jawaban terutama terkait dengan enam masalah sebagaimana disebutkan dalam poin kelima di atas. Barangsiapa lalai dalam menjalankan shalat sementara masih diberi-Nya kesempatan hidup hendaklah segera bertobat dengan menjalankan semua perintah-Nya, terutama rukun Islam yang lima dimana shalat ada di dalamnya, dan meninggalkan larangan-Nya.

  1. Berharap Tidak Su’ul Khatimah

Melayat dan mengiringi jenazah ke tempat pemakaman akan selalu mengingatkan akan kematian yang sewaktu-waktu bisa menghampiri siapa saja. Artinya semakin sering seseorang melayat dan mengiring jenazah hingga tempat pemakaman tentulah semakin baik karena akan selalu diingatkan akan adanya kematian yang pasti datang kepada siapa saja tanpa pandang bulu.

Ketujuh adab di atas penting untuk diperhatikan bagi seluruh kaum Muslimin (khusus laki-laki) untuk diamalkan secara bersama-sama. Jangan sampai sebagai orang Islam kita tidak pernah mengiring jenazah ke tempat makam mengingat kegiatan ini memiliki manfaat yang besar tidak hanya bagi jenazah yang diiringi tetapi sekaligus juga bagi orang-orang yang masih hidup.

Bagi perempuan mengiringi jenazah hingga tempat pemakaman kurang dianjurkan karena hukumnya makruh tanzih.

Continue Reading
Advertisement

Kajian Islam

Doa agar Mudah Menerima Kenyataan Hidup

Diterbitkan

pada

Perbanyak berdoa agar siap menerima kenyataan hidup. (Foto: NOJ/Pinterest)

Syaifullah – Hidup penuh dengan dinamika, kadang realita tidak berbanding lurus dengan yang di angan. Karenanya, sejak awal sudah memiliki kesadaran bahwa tidak jarang kenyataan hidup di luar yang diharapkan.

Sadar dengan kenyataan tersebut, maka sejak awal hendaknya sudah memiliki komitmen tersebut. Dan salah satu yang dianjurkan untuk mengucap kalimat sebagai berikut:

حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl. 

Artinya: Cukuplah Allah bagiku dan ia sebaik-baik wakil.

Anjuran ini didasarkan pada hadits riwayat Imam Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi. Semangat anjuran ini bukan hanya terletak pada pelafalan kalimat: ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl’, tetapi pada penguasaan emosi dan penguatan mental serta mengembalikan persoalan berat kepada Allah ketika menerima sebuah kenyataan meski pahit sekalipun.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ رَضِىَ اللَّهُ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ فَقَالَ الْمَقْضِىُّ عَلَيْهِ لَمَّا أَدْبَرَ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ يَلُومُ عَلَى الْعَجْزِ وَلَكِنْ عَلَيْكَ بِالْكَيْسِ فَإِذَا غَلَبَكَ أَمْرٌ فَقُلْ حَسْبِىَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

Artinya: Dari Auf bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW memutuskan perkara di antara dua orang. Orang yang berperkara ketika berpaling mengucap: ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl.’ Rasulullah kemudian bersabda: Allah mencela kelemahan. Sebaliknya, kau harus kuat. Jika kau dirundung oleh suatu masalah, hendaknya mengucap: Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl’. (HR Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi).

Uraian ini diangkat oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah perihal menerima qadha dan qadar pada karyanya Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib. Menurutnya, agama melarang untuk mengumpat dengan aneka kalimat yang buruk dan membawa mudharat serta tidak bermanfaat.

Agama menuntut seseorang untuk melakukan upaya maksimal sebelum akhirnya kenyataan tiba. Jika takdir berkata lain, maka ia dapat mengucap: ‘Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl. Kalimat ini cukup terpuji bila seseorang mengerahkan upaya maksimal sebelum kenyataan tiba. Adapun seseorang menjadi tercela menurut agama kalau hanya mengandalkan kalimat tersebut tanpa didahului oleh upaya maksimal/ikhtiar. (Lihat Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib, [Kairo, Darur Rayyan lit Turats: 1987 M/1408 H], cetakan pertama, halaman: 228-229).

Tetapi lafal ini dapat dimaknai sebagai sebuah doa agar hati kita dimudahkan dalam menerima kenyataan pahit yang sudah ditakdirkan oleh Allah.

Wallahu a’lam. 

Continue Reading

MaduTV on Facebook

 

TV DIGITAL MADU TV

Radio MDSFM

Linked Media

madu-tv-live-streaming

Trending

%d blogger menyukai ini: