
PROBOLINGGO, JAWA TIMUR – Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia, khususnya di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah turun langsung ke masyarakat untuk memberikan sosialisasi guna membantu membasmi jentik nyamuk penyebab DBD.
Peningkatan kasus DBD ini menjadi perhatian serius bagi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI), terutama karena tingginya angka kasus kejadian luar biasa (KLB) terkait penyakit ini.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, Kemenkes bekerja sama dengan Dinas Kesehatan kabupaten Probolinggo melaksanakan pemantauan langsung di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Mereka melakukan pengecekan di rumah-rumah warga, khususnya di tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk seperti kamar mandi, kulkas, dan tempat cuci piring.
Kemenkes dan Dinas Kesehatan juga melakukan pemantauan di sepuluh rumah warga, Masjid Baitis Salam, serta Pondok Pesantren Nurul Jadid yang merupakan kasus tertinggi DBD dengan 215 santri terpapar virus yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.
Sebelum dilakukannya pengecekan ini, ratusan warga melakukan senam sehat bersama petugas Jumantik (Juru Pemantau Jentik) dan masyarakat Desa Karanganyar.
Kepala Desa Karanganyar, Mahfud, mengkonfirmasi bahwa desanya memang tercatat sebagai kasus tertinggi DBD, dan ia berharap agar Dinas Kesehatan bersama Kementerian Kesehatan RI dapat memberikan dukungan dengan program-program yang mereka miliki.
Dewi Veronica, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanganan Penyakit Dinas Kesehatan, menjelaskan bahwa tingginya angka kasus DBD di kabupaten Probolinggo disebabkan oleh faktor iklim, terutama karena nyamuk lebih sering menggigit saat cuaca panas dengan suhu tinggi, berkisar antara 38 hingga 40 derajat Celsius. Hal ini membuat siklus hidup nyamuk tersebut lebih cepat, sehingga mereka lebih sering menggigit untuk memenuhi reproduksi.
Dewi juga menekankan perlunya mengantisipasi peningkatan kasus DBD, terutama menjelang musim hujan. Pihaknya sudah melakukan penanggulangan sebelum musim hujan, sekitar bulan April, dan mereka berharap agar Kementerian Kesehatan terus mengantisipasi hingga bulan penghujan tiba.
Sementara itu, Dr. Asik Surya, Koordinator Ketua Tim Kerja Arbovirosis Kementerian Kesehatan RI, mengungkapkan pentingnya tindakan yang harus diambil untuk mencegah peningkatan kasus DBD di tahun-tahun mendatang. Desa Karanganyar dan Pondok Pesantren Nurul Jadid di Paiton diharapkan dapat menjadi contoh bagi penanggulangan dan penanganan DBD di Indonesia. Program yang melibatkan masyarakat untuk memeriksa rumah mereka sendiri dan memberantas sarang nyamuk menjadi kunci dalam upaya mengatasi masalah ini.








