
Surabaya – Istighasah dan Tahlil akbar oleh Jaringan Kiai dan Santri (JKSN) Jawa Timur, yang sebelumnya akan digelar di area Gedung Grahadi Surabaya pada Rabu (03/09/2025). Hari ini telah resmi diselenggarakan di area Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Surabaya.
Selain menghadirkan ratusan tokoh-tokoh ulama’ karismatik dari Jawa Timur, acara ini juga mendatangkan 200 personel Gojek untuk turut bermunajat, tidak hanya kepada rekan-rekan seperjuangan dari berbagai daerah yang menjadi korban aksi anarkis ketika demo beberapa waktu belakangan ini, namun juga demi kebaikan bangsa dan negara.
Ketua Umum JKSN, sekaligus pendiri dan pengasuh PP. Amanatul Ummah, KH. Asep Saifuddin Chalim mengatakan, rangkaian acara ini ditujukan untuk kedamaian bangsa dan negara, sekaligus menjadi penopang anti provokasi dan perpecahan.
“Kalau negara ini isinya provokator, maka akan hancur. Maka harus ada kelompok penopang yaitu mereka yang bertanggung jawab ikut menjaga keberadaan Indonesia,” ujarnya.
Menurut putra dari pahlawan nasional, KH. Abdul Chalim tersebut, kegiatan ini merupakan aksi nyata, dalam menghalau aksi-aksi provokasi dan upaya-upaya adu domba dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
Mengacu pada firman Allah didalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya ayat 105, kiai Asep menyebutkan, bahwasanya Allah menitipkan bumi kepada hamba-hamba yang saleh untuk mewarisi dan memakmurkannya sesuai dengan petunjuk Allah.
Oleh karenanya, aktifitas berupa istighasah dan doa bersama ini, menjadi representasi upaya aktif JKSN untuk menjaga kondusifitas dalam upayanya kembali mempersatukan pikiran bangsa.
“Doa semacam ini penting agar provokator semakin mengecil dan hilang. Kita harus membela pemerintahan yang sah,” kata Kiai Asep menambahkan.
Kiai Asep juga mengingatkan, bagaimana provokator kerap muncul dengan tujuan melemahkan warga negara melalui isu-isu yang menyesatkan, termasuk tuduhan-tuduhan gelap untuk mengalihkan isu dan kepentingan terselubung yang dapat merugikan negara.
“Maling berteriak maling, itu justru maling. Jangan sampai masyarakat termakan provokasi seperti ini,” ucapnya.
Untuk itu dirinya mengimbau, agar masyarakat terutama generasi muda, tidak terpancing sehingga menjadi alat provokasi pihak-pihak yang ingin mengacaukan ekosistem bernegara dari para pemimpin bangsa.
“Anak-anak kecil jangan sampai dijadikan alat provokasi. Kita semua harus introspeksi diri dan bersama-sama menjaga bangsa ini,” katanya.
Ia menilai, di balik gerakan-gerakan anarkis yang terjadi sepanjang demonstrasi bulan lalu, terdapat kepentingan-kepentingan asing dan kelompok tertentu yang ingin mengeksploitasi sumber daya di Indonesia.
“Apakah di tambang ilegal, minyak, atau perkebunan, mereka terusik dengan kepemimpinan sekarang. Karena itu mereka memunculkan provokator. Namun masyarakat sudah paham,” tuturnya.
Pihaknya berharap, rangkaian aktifitas bersama JKSN ini, dapat menjadi contoh yang arif bahwa gerakan spiritual dapat memperkuat solidaritas berbangsa bernegara sekaligus memberikan dukungan nyata terhadap keamanan warga negara. (Red/Aji)








