spot_img
Selasa, April 21, 2026
Beranda RAGAM BERITA Dukung Ekonomi Biru, KKP Dorong Riset Olahan Rumput Laut Nirlimbah

Dukung Ekonomi Biru, KKP Dorong Riset Olahan Rumput Laut Nirlimbah

243

Jakarta – Indonesia merupakan salah satu negara eksportir rumput laut terbesar dunia. Komoditas tersebut menjadi salah satu andalan utamanya. Namun demikian, perlu dikembangkan pengolahan rumput laut untuk menghasilkan nilai tambah. Agar keberkelanjutan dan kelestarian lingkungan tetap terjaga, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), telah melakukan riset pengolahan rumput laut tanpa limbah.

Data menyebutkan, pada 2018 Indonesia menjadi pengekspor rumput laut tertinggi dunia sebesar 192,28 ton, yang didominasi jenis Eucheuma cottonii. Indonesia masuk dalam jajaran produsen utama rumput laut dunia, menguasai lebih dari 80 persen supply share, utamanya untuk tujuan ekspor ke Tiongkok. Pada 2019 jumlahnya meningkat lagi menjadi 209,24 ribu ton. Produksi rumput laut di Indonesia bertambah setiap tahunnya.

“Luar biasa sekali! Tapi nanti kita pasti akan ditanya bagaimana dengan added value nya? Ya ini yang harus kita pikirkan dan kita kembangkan supaya pemanfaatannya semaksimal mungkin bisa dinikmati rakyat Indonesia. Ini semua menjadi tantangan bagi kita, para peneliti, para saintis, agar bagaimana semua jenis rumput laut yang tumbuh di Indonesia ini mampu diarahkan untuk menjadi produk-produk yang memberi kemanfaatan untuk kita semua,” ujar Kepala BRSDM Sjarief Widjaja pada Live Webinar Pengolahan Produk bertema Industri Rumput Laut Nir Limbah, Kamis (22/7/2021), yang diselenggarakan oleh Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2BKP) BRSDM.

Rumput laut tersebut ada yang diolah menjadi produk kosmetik, farmasi, makanan, bumbu, agar-agar, puding, jelly, dan pangan fungsional lainnya. Upaya pengolahan tersebut, menurut Sjarief, harus dipikirkan agar bisa menghasilkan produk yang memberi kemanfaatan tinggi dan tidak menghasilkan limbah yang akhirnya dapat menjadi masalah baru bagi industri dan lingkungan sekitarnya.

Limbah pengolahan rumput laut Gracilaria dan Cottonii dalam negeri menghasilkan limbah cair sebanyak 8.174.150 m3 dan limbah padat 62.506 ton per tahun. Limbah ini harus dimanfaatkan, sehingga sejalan dengan blue economy yang dikembangkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, yang menjadi arah pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Potensi pemanfaatan limbah cair antara lain daur ulang dan pupuk cair, sedangkan limbah padat dapat menjadi bahan baku keramik, particle board, pupuk, bata ringan, dan sebagainya.

Untuk itu BBRP2BKP telah melakukan riset terkait pengolahan rumput laut tanpa limbah dan menjalin sejumlah kerja sama. Salah satu kerja sama dilakukan dengan satu sebuah perusahaan di Pandaan, Jawa timur, untuk mengembangkan instalasi pengolahan limbah cair dan padat.

“Ini suatu terobosan yang baik, yang mana peluang ini harus terus dikembangkan, sehingga pada akhirnya nanti kita akan mengatakan kepada Indonesia bahwa hasil-hasil riset inovasi dari Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan memberikan sumbangsih secara nyata bagi pembangunan Indonesia. Kita bisa mengurangi ekspor rumput laut bahan mentah, kita bisa langsung mendorong terjadinya proses pengolahan rumput laut ini di Indonesia, memberikan nilai tambah sekaligus bisa menghasilkan produk samping berupa pengolahan limbah padat dan cair dari industri tersebut yang masih bisa dimanfaatkan,” pungkas Sjarief.

Sementara itu, Kepala BBRP2BKP, Hedi Indra Januar mengatakan, pemanfaatan rumput laut saat ini sudah sangat berkembang. Namun perlu disosialisasikan pemanfaatan rumput laut tersebut berdasarkan hasil-hasil riset yang sudah teruji secara laboratorium, untuk itu perlu dihilirisasikan sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat hasil riset tersebut.(*/red)